Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Hukum Bacaan Ra Dan Pembahagian Hukum Ra

pembagian hukum bacaan ra
Cara baca رَ

Hukum Ra

Salah satu metode membaca al quran adalah sepatutnya kita mengetahui cara bagaimana membaca huruf ra dalam al quran. sehingga kita dapat membaguskan kefasihan bacaan kita dalam membaca al quran. Namun, efek apabila kita tidak dapat menganalisis bacaan tersebut kita dapat menyalahkan qiraah. Jika apabila qiraah tersebut salah otomatis maknanya salah. Sebagaimana yang sudah kita ketahui yang bahwa hukum belajar ilmu tajwid adalah fardhu kifayah. Kalau ada dalam suatu tempat ada seseorang yang menguasai ilmu ini maka bagi yang lainnya tidak menanggung dosa, kalau sampai tidak ada maka seluruh kaum muslimin menanggung dosa.

Sedangkan membaca Al Qur’an dengan tajwid adalah fardhu ‘ain artinya bagi seorang yang mukalaf baik laki-laki atau perempuan harus membaca Al Qur’an dengan tajwid, kalau tidak maka dia berdosa, hal ini berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dan ucapan para ulama.

1. Dalil-Dalil Dari Al-Qur’an Membaca Dengan Tajwid

a. Firman Allah:

“Orang-orang yang telah kami berikan Al-Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al Baqarah: 121)

Dan mereka tidak akan membaca dengan sebenarnya kecuali harus dengan tajwid, kalau meninggalkan tajwid tersebut maka bacaan itu menjadi bacaan yang sangat jelek bahkan kadang-kadang bisa berubah arti. Ayat ini menunjukkan sanjungan Allah Azza wa Jalla bagi siapa yang membaca Al Qur’an dengan bacaan sebenarnya.

b. Firman Allah SWT:

“Dan kami membacanya dengan tartil (teratur dengan benar).” (Al Furqan: 32)

Ini adalah sifat Kalamullah, maka wajib bagi kita untuk membacanya dengan apa yang diturunkan oleh Allah Azza wa Jalla.

2. Dalil-Dalil Dari Hadist Membaca Dengan Tajwid

a. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:“Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ketika ditanya bagaimana bacaan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau menjawab bahwa bacaan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam itu dengan panjang-panjang kemudian dia membaca “Bismillahirrahman arrahiim” memanjangkan (bismillah) serta memanjangkan (ar rahmaan) dan memanjangkan ar rahiim.” (HR. Bukhari)

b. Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabat agar mengambil bacaan dari sahabat yang mampu dalam bidang ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Dari Abdullah bin Amr bin Ash berkata, telah bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mintalah kalian bacaan Al Qur’an dari Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Ubay bin Ka’ab, Mu’adz bin Jabal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini adalah para sahabat yang mulia, padahal mereka itu orang-orang yang paling fasih dalam pengucapan Al Qur’an masih disuruh belajar, lalu bagaimana dengan kita orang asing yang lisan kita jauh dari lisan Al Qur’an?

3. Ijma’ Ulama Membaca Dengan Tajwid

Seluruh qura’ telah sepakat tentang wajibnya membaca Al-Qur’an dengan tajwid.
BELI BUKU TAJWID PLUS LENGKAP DISINI

Pembahagian Hukum Bacaan Ra

Berdasarkan tata cara dalam makhrajal huruf (tempat-tempat keluarnya huruf) dan sifat-sifat yang dimilikinya, bacaan ra dibagi menjadi tiga macam, yaitu;

1. Hukum Ra Tafkhim

a. Pengertian Tafkhim

Tafkhim (تَفْخِيْمُ) merupakan masdar dari fakhkhama (فَخَّمَ) yang berarti menebalkan. Sedang yang dimaksud dengan bacaan tafkhim adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tebal.

Pada pengertian itu dapat disimpulkan, bahwa bacaan-bacaan tafkhim itu menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan (bahasa Jawa mecucu), bacaan tafkhim kadang-kadang disebut sebagai isim maf’ul mufakhkhamah (مُفَخَّمَةٌ).

b. Bacaan Tafkhim

Huruf hijaiyah yang wajib dibaca tafkhim terdapat tujuh huruf, yaitu huruf isti’la yang berkumpul pada kalimat: خُصَّ ضَغْطِ قِظْ, kesemuanya harus dibaca tebal.

Ra' Tafkhim adalah cara membaca huruf ra dengan tafkhim (tebal).
Ra harus di baca tafkhim atau tebal karena beberapa sebab berikut ini:

Ra’ yang berbaris fathah atau dhommah.

Contohnya: رَسُوْلٌ * رُفاَتاً

Ra’ yang bertanda sukun dan huruf sebelumnya berbaris fathah atau dhommah.

Contohnya: أرْتَدُّوْ * يُرْضِعْنَ

Ra’ di hujung kalimah dibaca sebagai sukun kerana waqaf yang mendatang; juga diselangi huruf mad wau ( و ) atau alif ( ا ) yang bertanda sukun dan sebelumnya ada huruf yang berbaris fathah atau dhommah.

Contohnya: ألصُّدُوْرِ * ألأبْرَارِ

Ra’ di hujung kalimah dibaca sebagai sukun kerana waqaf yang mendatang; sebelumnya terdapat huruf mati selain huruf ( ى ) dan sebelumnya lagi terdapat huruf yang berbaris fathah atau dhommah.

Contohnya:بِألصَّبْرِ * خُسْرٍ

Ra' yang bertanda sukun selepas huruf hamzah wasal yang berbaris kasrah maupun dhomah.

Contohnya: اُرْجِعِ * وَاُرْعَوْا

Ra' yang bertanda sukun selepas huruf yang berbaris kasrah dan selepasnya terdapat huruf isti'la'. 

Contohnya: قِرْطَاسٍ * فِرْقَََةٍ

2. Hukum Ra Tarqiq

a. Tarqiq (تَرْقِيْقٌ) merupakan bentuk masdar dari raqqaqa (رَقَّقَ) yang berarti menipiskan. Sedang yang dimaksud dengan bacaan tarqiq adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis.

b. Pada pengertian itu tampak, bahwa tarqiq menghendaki adanya bacaan yang tipis dengan cara mengucapkan hurur di bibir (mulut) agak mundur sedikit dan tmpak agak meringis. Bacaan tarqiq kadang-kadang disebut sebagai isim maf’ulnya, yakni muraqqaqah (مُرَقَّقَةٌ).

Ra' Tarqiq adalah cara membaca huruf ra dengan Tarqiq (tipis).
Ra harus di baca Tarqiq atau tipis karena beberapa sebab berikut ini:

Ra’ yang berbaris kasrah.

Contohnya: أبْصَرِهِمْ

Ra' yang bertanda sukun selepas huruf yang berbaris kasrah dan bertemu dengan huruf yang bukan huruf isti'la'.

Contohnya: فِرْعَوْنَ

Ra’ di hujung kalimat yang disukunkan (waqaf yang mendatang) dan sebelumnya terdapat huruf sukun yang bukan huruf isti'la' dan sebelum huruf bertanda sukun itu, terdapat huruf yang berbaris kasrah.

Contohnya: حِجْرٍ

Ra’ di hujung kalimah yang disukunkan (waqaf yang mendatang) dan sebelumnya terdapat huruf ي yang bertanda sukun dan sebelum huruf ي bertanda sukun ini, terdapat huruf yang berbaris fatha atau kasrah.

Contohnya: نَصِيْرٍ

Ra’ bertanda sukun di hujung kalimah kerana huruf sebelumnya bertanda kasrah dan terdapat huruf isti'la' di kalimah/kata yang kedua.

Contohnya: أنْ أنْذِرْقَوْمَكَ

3. Hukum Ra Jawajul Wajhain

Ra' Jawajul Wajhain adalah cara membaca huruf ra dengan dua wajah, maksudnya boleh di tebalkan atau di tipiskan. 

Ra boleh di tebalkan atau di tipiskan karena beberapa sebab berikut ini:

Ra' sukun yang huruf sebelumnya berbaris kasrah dan bertemu dengan huruf isti'la' yang berbaris kasrah juga. l
ebih utama dibaca tipis.

Contohnya: فِرْقٍ

Ra' yang disukunkan di hujung kalimah (waqaf yang mendatang), sebelumnya terdapat huruf isti'la' yang bertanda sukun dan sebelum huruf isti'la' ini, ada huruf yang berbaris kasrah.
Lebih utama dibaca tebal jika ra' berbaris fatha.
Lebih utama dibaca tipis jika ra' berbaris kasrah.

Contohnya:عَلَيْهِ قِطْرًا * عَيْنَ الْقِطْرِ

Syukran

1 comment for "Pengertian Hukum Bacaan Ra Dan Pembahagian Hukum Ra "

  1. Makasih banyak bang, cara penjelasannya mudah banget di mengerti. semoga 'ilmunya berkah bang.

    ReplyDelete

Follow By Email