Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Dan Tokoh Tahaddi Dalam Menantang Isi Al-Quran

tahaddi

Menurut Bahauddin Khurramsyahi, tahaddi secara etimologis berarti mengajak berkompetisi.

Secara terminologis berarti sebuah hakikat Qur’ani yang merupakan perintah Allah SWT kepada para penentang dan pengingkar al-Qur’an dan kebenaran Nubuwwah Rasulullah SAW. 

Jika sesuai dengan klaim mereka bahwa Al-Qur’an adalah buatan manusia, maka hendaklah mereka membawa yang semisalnya.

Al-Quran digunakan Rasulullah SAW untuk menantang orang-orang Arab tetapi mereka tidak sanggup menghadapinya, padahal mereka sedemikian tinggi tingkat fasahah dan balagahnya.

Hal ini tiada lain karena Qur’an adalah mukjizat.

Rasulullah SAW telah meminta orang Arab menandingi Al-Qur’an dalam bentuk tiga tahapan:

  1. Menantang mereka dengan seluruh Qur’an dalam uslub umum yang meliputi orang arab sendiri dan orang lain, manusia, dan jin, dengan tantangan yang mengalahkan kemampuan mereka secara padu melalui firman-Nya : “Katakanlah: Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Quran ini niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Al-Isra ayat 88)

  2. Menantang mereka dengan sepuluh surah saja dalam Qur’an, dalam firman-Nya: “Ataukah mereka mengatakan: Muhammad telah membuat-buat Qur’an itu. Katakanlah : (Jika demikian), maka datangkanlah sepuluh orang yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar. Jika mereka (yang kamu seru itu) tidak menerima seruanmu itu, ketahuilah, sesungguhnya Al-Qur’an itu diturunkan dengan ilmu Allah.” (Hud ayat 3-14)

  3. Menantang mereka dengan satu surah saja dari Al-Qur’an, dalam firman-Nya :“Atau (patutkah) mereka mengatakan, Muhammad membuat-buatnya. Katakanlah: Kalau benar yang kamu katakan itu, cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya” (Yunus ayat 38)

Perlu diingat bahwa tahaddi bukan berarti harus membawa ayat yang selevel dan sama seperti ucapan Allah SWT dari sisi ungkapan dan penyampaian, sebab kesamaan seperti ini hanya dapat dilakukan dengan meniru 100% (taqlid). 

Maksud tahaddi di sini adalah membawa ucapan yang mirip dengan Al-Qur’an dari sisi makna memiliki kedudukan yang tinggi dan menduduki posisi kefasihan dan kebalighan yang tertinggi, ucapan yang kuat, kokoh, jelas dan memiliki pemikiran yang tinggi. 

Para ahli sastra dan bahasa telah menetapkan standar khusus untuk menentukan ketinggian dan kerendahan suatu ucapan. Keistimewan dan keutamaan suatu ucapan atas ucapan lainnya ditentukan dengan standar ini yang dikenal sebagai ilmu Balaghah.

Sebagian mutakalimin meyakini bahwa Allah SWT melemahkan ambisi dan iradah orang-orang yang ingin menjawab tantangan Al-Qur’an untuk membawa surah yang semisal dengannya dan mengeluarkan atau mengembalikan (صرف ) niat mereka dari melakukan pekerjaan ini.

Oleh karena demikian, penentangan telah berhadap-hadapan dengan tahaddi dan yang menjadi akhir bagi para penentang tak lain hanyalah kerugian dan aib. 

Berikut beberapa kisah dari para penentang kalam Allah SWT: 
  • Musailamah al-Kazzab yang mengaku bahwa dirinya adalah nabi dan rasul telah membuat sebuah surah untuk menentang surah al-Fil sebagai berikut:  

الفيل ما الفيیل و ما ادراک ما الفيل له ذنب وبيل و خرطوم طويل
  • Thulaihah bin Khuwailid Al-Asady, ia yang mengaku juga sebagai nabi, bahkan dia menduga bahwa Dzunnun datang kepadanya dengan membawa wahyu, tetapi iya tidak mengakui mempunyai Al-Quran karena kaumnya termasuk orang yang fasih bicara. Mereka mengikutinya karena fanatik kesukuan dan mencari kedudukan serta ketenaran.

    Pengarang Kamus Al-Buldan menyebutkan bahwa dia (Thulaihah) punya kata-kata yang menduga bahwa ia dituruni wahyu tetapi kata-kata bunyinya kurang lebih begini:

Sesungguhnya Allah tidak berbuat menutupi wajahmu dan sedikitpun tidak menjelekkan belakangmu, sebutlah Allah pada waktu berdiri, sesungguhnya buih itu tempatnya diatas dan lebih jelas.

Maksud: Jangan ruku’, jangan sujud, cukuplah dengan solat sambil berdiri serta zikir kepada Allah dalam keadaan berdiri.

Untuk memerangi Thulaihah, Abu Bakar mengutus pasukan dibawah pimpinan Khalid bin Walid, ketika dua pasukan itu bertemu, banyak dari pengikut Thulaihah yang mati terbunuh. Sedangkan dia ketika itu dalam keadaan berselimut dengan pakaian tebal untuk menunggu wahyu.

Kemudian Uyainah Bin Hishn Al-Fazzari bertanya kepadanya: “Sudah datangkan wahyu kepadamu?” Ia menjawab dari bawah selimut: Tidak, demi Allah tidak datang. ‘Uyainah bertanya kepadanya: Ia (Allah) telah meninggalkan kau dalam keadaan membutuhkan sesuatu. Kemudian ‘Uyainah menyeru: “Wahai Bani Fazarah, Ini Thulaihah adalah pendusta, kami dan dia tidak diberkahi dalam hal yang dimintakan. 

Kemudian Thulaihah lari sampai ke Syam. Disebutkan dalam pelarian tersebut setelah itu dia sadar dan menyatakan keislamannya kembali. 

Mahlil Al mudassa
Mahlil Al mudassa Hamba Allah yang sering nyangkut di dunia maya via atribut fana. Slogan BISYEL Email: mahlilflanstsr@gmail.com

Post a comment for "Kisah Dan Tokoh Tahaddi Dalam Menantang Isi Al-Quran "

Follow By Email